Pustu Tanpa Pelayanan, Bukti Kegagalan Sistem? Warga Hariara Terpaksa Pulang Tanpa Perawatan Pustu Tanpa Pelayanan, Bukti Kegagalan Sistem? Warga Hariara Terpaksa Pulang Tanpa Perawatan

Pustu Tanpa Pelayanan, Bukti Kegagalan Sistem? Warga Hariara Terpaksa Pulang Tanpa Perawatan

Pustu Tanpa Pelayanan, Bukti Kegagalan Sistem? Warga Hariara Terpaksa Pulang Tanpa Perawatan. (Foto: dok/ist)

SMSNEWS.id | Samosir – Ketiadaan petugas di Posyandu Terpadu (Pustu) Pintu Dusun 3, Desa Hariara, Kecamatan Harian, kembali menjadi sorotan. Fasilitas kesehatan yang seharusnya melayani masyarakat justru berulang kali tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Saat dilakukan pemantauan pada Rabu (18/3/26) pagi hari sekitar pukul 10.20 WIB, Pustu ditemukan dalam kondisi terkunci tanpa kehadiran tenaga medis. Warga yang datang dengan harapan mendapat pelayanan kesehatan harus kembali tanpa penanganan.

Fenomena ini bukan kejadian sekali dua kali. Warga mengaku sering mendapati kondisi serupa, bahkan saat jam operasional berlangsung.

“Sudah sering kami datang, tapi tidak ada petugas. Kami jadi bingung kalau butuh bantuan cepat,” ungkap salah seorang warga.

Padahal, secara sumber daya, Pustu ini tidak kekurangan tenaga. Tiga bidan tercatat bertugas di fasilitas tersebut. Namun, absennya sistem kerja yang terstruktur membuat pelayanan tidak berjalan optimal.

Kondisi ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah ini sekadar kelalaian individu, atau cerminan kegagalan sistem pelayanan kesehatan di tingkat dasar?

Pengelolaan oleh Puskesmas Harian sebagai instansi penanggung jawab dinilai belum menunjukkan standar pelayanan publik yang memadai. Tidak adanya kejelasan jadwal, minimnya kontrol, serta tidak tersedianya mekanisme darurat menjadi bukti lemahnya tata kelola.

Dalam pelayanan kesehatan, keberadaan petugas bukan pilihan, melainkan kewajiban. Ketidakhadiran tenaga medis di fasilitas publik dapat dikategorikan sebagai bentuk pengabaian terhadap hak dasar masyarakat.

Beberapa dugaan penyebab mencuat, mulai dari buruknya manajemen jadwal, tugas lapangan tanpa sistem pengganti, hingga lemahnya pengawasan internal.

Yang paling mengkhawatirkan adalah potensi risiko bagi warga dalam situasi darurat. Tanpa akses cepat ke layanan kesehatan, masyarakat dipaksa mengambil risiko yang seharusnya bisa dihindari.

Desakan pun menguat. Warga meminta Kepala Puskesmas Harian segera melakukan pembenahan menyeluruh, termasuk penerapan jadwal piket wajib, sistem kontrol kehadiran, serta penyediaan kontak darurat yang dapat diakses setiap saat.

Tidak hanya itu, Dinas Kesehatan Kabupaten Samosir juga diminta turun tangan melakukan audit pelayanan dan memastikan standar operasional benar-benar dijalankan di lapangan.

“Kalau tidak ada perubahan, untuk apa ada Pustu di desa ini? Kami butuh pelayanan, bukan sekadar bangunan kosong,” kata warga lainnya.

Persoalan ini menjadi cermin bahwa keberadaan fasilitas saja tidak cukup. Tanpa komitmen pelayanan dan pengawasan yang kuat, fungsi kesehatan dasar akan terus kehilangan makna di tengah masyarakat.

Hingga berita ini diterbitkan, media ini masih berupaya mengkonfirmasi pihak Postu hingga Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Samosir guna memperoleh informasi berimbang. (Darwin Habeahan)

Editor: Red

Lebih baru Lebih lama