Odoo Tawarkan Pengelolaan Varian Garmen Tanpa Duplikasi SKU Odoo Tawarkan Pengelolaan Varian Garmen Tanpa Duplikasi SKU

Odoo Tawarkan Pengelolaan Varian Garmen Tanpa Duplikasi SKU

Odoo Tawarkan Pengelolaan Varian Garmen Tanpa Duplikasi SKU. (Foto: dok/ist)

SMSNEWS.id | Bandung – Pengelolaan produk dengan banyak ukuran dan warna menjadi salah satu tantangan yang kerap dihadapi pelaku industri garmen dan konveksi. Tanpa struktur data yang tepat, satu model pakaian dapat berkembang menjadi puluhan kode barang hanya karena perbedaan ukuran dan warna.

Kondisi tersebut tidak hanya membuat master data semakin besar, tetapi juga berpotensi menyulitkan pengelolaan stok, penjualan, produksi hingga pembelian bahan baku.

Dalam materi yang disampaikan i2C Studio pada 29 September 2026, dicontohkan satu model kaos yang tersedia dalam lima ukuran dan enam warna. Dengan pola pencatatan konvensional, seluruh kombinasi dapat dicatat sebagai 30 produk berbeda.

Pencatatan semacam itu membuat data penjualan per model menjadi terpecah. Di sisi gudang, proses stok opname juga dapat menjadi lebih panjang karena satu produk memiliki banyak kode. Sementara pada bagian pembelian, kebutuhan bahan baku sulit diproyeksikan secara akurat ketika data ukuran dan warna tidak tersusun dalam satu struktur.

Persoalan tersebut pada akhirnya dapat memengaruhi pengelolaan persediaan. Varian tertentu bisa mengalami kelebihan stok, sementara ukuran lain justru mengalami kekosongan.

Odoo Pisahkan Produk dan Varian

ERP Odoo menawarkan pendekatan berbeda melalui pemisahan antara template produk dan varian. Dalam struktur tersebut, satu model produk dapat memiliki berbagai atribut, seperti ukuran dan warna, tanpa harus membuat setiap kombinasi sebagai produk baru.

Dokumentasi resmi Odoo menjelaskan bahwa atribut dan nilai atribut digunakan untuk membentuk varian produk. Dengan demikian, satu produk seperti kaos polo dapat didaftarkan sebagai satu model, kemudian dikembangkan menjadi berbagai varian berdasarkan kombinasi atribut yang tersedia.

Masing-masing varian tetap dapat memiliki kode internal dan barcode tersendiri. Informasi lain, seperti harga tambahan untuk ukuran tertentu, stok, perkiraan kebutuhan serta riwayat pergerakan barang juga dapat dikelola pada tingkat varian.

Pendekatan ini memungkinkan perusahaan tetap memiliki SKU yang berbeda untuk kebutuhan operasional tanpa harus menggandakan master produk untuk setiap kombinasi.

Tidak semua kombinasi atribut juga harus diproduksi. Misalnya, perusahaan hanya menyediakan warna tertentu pada ukuran tertentu. Aturan pengecualian dapat digunakan untuk menghindari pembentukan kombinasi yang memang tidak tersedia.

Migrasi Data Lama Jadi Tahap Penting

Menurut materi i2C Studio, persoalan terbesar dalam penerapan ERP garmen bukan semata-mata konfigurasi sistem, tetapi bagaimana data lama dipetakan ke struktur baru.

Tahap awal dapat dilakukan dengan mengelompokkan kode lama berdasarkan model induknya. Setelah itu, perusahaan menetapkan atribut resmi seperti ukuran, warna dan bahan, kemudian menyusun pola penamaan kode internal yang konsisten.

Stok akhir dari kode lama selanjutnya perlu dipetakan ke masing-masing varian baru. Sebelum sistem digunakan secara penuh, transaksi penjualan dan produksi juga perlu diuji untuk memastikan struktur data telah berjalan sesuai kebutuhan operasional.

Pendampingan teknis menjadi penting terutama bagi perusahaan yang memiliki ribuan kode barang. Data penjualan historis, misalnya, dapat digunakan untuk melihat kombinasi ukuran dan warna yang benar-benar memiliki aktivitas pasar.

Dengan pendekatan tersebut, kode lama yang tidak lagi digunakan dapat diseleksi sehingga tidak seluruh data historis harus dipindahkan secara mentah ke sistem baru.

Dampak ke Penjualan, Produksi dan Pembelian

Struktur varian yang lebih tertata tidak hanya berpengaruh terhadap master data. Pada proses penjualan, pengguna dapat memasukkan pesanan berdasarkan matriks ukuran dan warna sehingga proses input tidak harus dilakukan dengan menambahkan baris produk satu per satu.

Di bagian produksi dan pembelian, data varian juga dapat membantu perusahaan membaca kebutuhan bahan berdasarkan karakteristik produk. Bill of Materials (BoM) dapat dikaitkan dengan kebutuhan varian tertentu sehingga penggunaan bahan dapat disesuaikan dengan produk yang dibuat.

Data yang lebih terstruktur juga memberikan gambaran penjualan dari dua sisi. Manajemen dapat melihat performa suatu model secara keseluruhan sekaligus mengetahui rincian penjualan berdasarkan ukuran dan warna.

Informasi tersebut dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan produk yang perlu diproduksi kembali maupun varian yang perlu dikurangi.

Fondasi Data Menentukan Efektivitas ERP

i2C Studio menyebut persoalan utama dalam penerapan ERP garmen bukan semata jumlah produk, melainkan cara perusahaan mendefinisikan produknya.

Ukuran dan warna yang diperlakukan sebagai atribut memungkinkan satu model memiliki berbagai varian tanpa membuat master produk berkembang secara tidak terkendali.

i2C Studio, yang berbasis di Bandung dan menyebut dirinya sebagai Odoo Silver Partner, menawarkan pendampingan implementasi Odoo yang dimulai dengan audit alur kerja dan pemetaan proses bisnis.

Pendekatan tersebut diarahkan untuk menyesuaikan konfigurasi sistem dengan kebutuhan operasional perusahaan, termasuk dalam proses penataan dan migrasi data produk.

Dalam penerapannya, durasi penataan data lama dapat berbeda-beda, tergantung jumlah kode yang dimiliki perusahaan serta kondisi pencatatan stok dan transaksi sebelumnya.

Dengan fondasi data yang tertata sejak awal, sistem ERP diharapkan dapat mendukung pengelolaan persediaan, penjualan, produksi dan pembelian ketika volume serta variasi produk garmen terus bertambah. (*)

Editor: Red

Lebih baru Lebih lama