Gerakan #SaveTheTao 2026: Efendy Naibaho Ajak Masyarakat Pulihkan Ekosistem Danau Toba Gerakan #SaveTheTao 2026: Efendy Naibaho Ajak Masyarakat Pulihkan Ekosistem Danau Toba

Gerakan #SaveTheTao 2026: Efendy Naibaho Ajak Masyarakat Pulihkan Ekosistem Danau Toba


Ketua Yayasan Pusuk Buhit, Efendy Naibaho. (Foto: dok/ist)

SMSNEWS.id | Samosir — Upaya penyelamatan Danau Toba kembali mendapat perhatian serius melalui pencanangan Gerakan Sejuta Pohon dan Sejuta Bibit Ikan oleh Ketua Yayasan Pusuk Buhit, Efendy Naibaho, yang akan dilaksanakan sepanjang tahun 2026 di seluruh kawasan Danau Toba.

Gerakan ini lahir dari keprihatinan terhadap kondisi ekosistem Danau Toba yang terus mengalami tekanan, baik akibat degradasi hutan di kawasan tangkapan air maupun menurunnya populasi ikan endemik. Efendy menegaskan, pemulihan lingkungan harus dilakukan secara bersama-sama dan berkelanjutan.

“Ini bukan sekadar menanam pohon atau menebar ikan, tetapi gerakan moral dan budaya untuk mengembalikan Danau Toba sebagai sumber kehidupan masyarakat,” kata Efendy, Sabtu (31/1/26).

Pelaksanaan gerakan akan mencakup tujuh kabupaten di kawasan Danau Toba, yaitu Kabupaten Samosir, Humbang Hasundutan, Toba, Tapanuli Utara, Dairi, Karo, dan Simalungun. Fokus penebaran bibit ikan diarahkan pada ikan pora-pora sebagai salah satu spesies yang memiliki nilai ekologis dan kultural bagi masyarakat setempat.

Gerakan ini akan digerakkan melalui jejaring media dan sosial kemasyarakatan dengan melibatkan komunitas, organisasi, tokoh adat, tokoh agama, jurnalis, hingga generasi muda. Seluruh kegiatan disusun secara sistematis agar mampu memberikan dampak jangka panjang bagi kelestarian Danau Toba.

Dengan mengusung tagar #SaveTheTao, gerakan ini menjadi ruang bersama untuk menyatukan berbagai inisiatif lingkungan yang selama ini berjalan sendiri-sendiri. Sejumlah organisasi telah menyatakan dukungan, mulai dari Forum Peduli Danau Toba, Aliansi Rakyat Danau Toba, Yayasan Budaya Hijau, KERMAHUDATARA, hingga DPP Protap yang dipimpin Dr JS Simatupang SH MA CGRP.

Dukungan nyata juga datang dari penyediaan bibit pohon. Salah satunya dari Ganda Sirait yang menyatakan kesiapan menyediakan ratusan ribu benih pohon lamtoro gung.

“Lamtoro gung sangat cocok untuk kawasan Danau Toba karena tahan banting dan mampu tumbuh di kondisi tanah vulkanik dan perbukitan curam,” jelas Efendy. Dengan jarak tanam lima meter, pohon ini diyakini mampu menghijaukan Pulau Samosir dan kawasan sekitarnya secara signifikan.

Sementara itu, kawasan Pusuk Buhit akan mendapat perhatian khusus melalui penanaman pohon bernilai budaya seperti beringin, jabi-jabi, dan hariara. Penanaman akan dilakukan dengan sistem adopsi pohon sebagai bentuk keterlibatan masyarakat secara langsung.

Rangkaian gerakan direncanakan dimulai sejak Januari 2026 melalui persiapan administrasi dan koordinasi. Pada Februari dilakukan audiensi dengan pimpinan pemerintahan, dilanjutkan pengecekan bibit dan lokasi pada Maret. Puncak kegiatan penanaman pohon dan penebaran bibit ikan dijadwalkan pada April, bertepatan dengan peringatan Hari Gerakan Sejuta Pohon Dunia.

Efendy menegaskan, gerakan ini terbuka bagi siapa saja. Partisipasi publik, baik dalam bentuk bibit, dukungan operasional, maupun tenaga, akan dikelola secara transparan dan diinformasikan melalui kanal resmi gerakan.

“Kami mengajak seluruh elemen masyarakat, koperasi, gereja, ormas, hingga partai politik di kawasan Danau Toba untuk bersama-sama menjaga warisan alam ini demi generasi mendatang,” tutup Efendy. (John/Ss)

Editor: Red

Lebih baru Lebih lama