SMSNEWS.id | Samosir – Jeritan warga Desa Singkam, Kecamatan Sianjur Mula-mula, Kabupaten Samosir, seolah menjadi potret buram pembangunan yang belum menyentuh kebutuhan mendasar masyarakat. Jembatan di Jl. Gereja yang menjadi akses vital warga menuju tempat ibadah kini dalam kondisi mengkhawatirkan.
Rekaman video yang diterima redaksi media ini bertanggal Minggu, 1 Maret 2026 pukul 13.05 WIB memperlihatkan jembatan kayu tanpa pembatas dengan permukaan tak rata. Struktur kayu yang tampak lapuk dan tidak sejajar membuat siapa pun yang melintas harus menahan napas. Bagi pejalan kaki saja berisiko, apalagi jika dilalui sepeda motor.
Dalam video tersebut, seorang ibu lansia menyampaikan keluhan dengan suara lirih namun sarat makna. Ia memohon agar pemerintah membangun akses jalan yang layak, sebab jika jembatan itu runtuh, warga tak lagi bisa beribadah dengan aman.
Adegan seorang nenek renta dipapah melewati jembatan rapuh menjadi simbol nyata bahwa persoalan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan soal martabat dan hak dasar warga untuk merasa aman.
Kondisi ini terasa semakin kontras ketika publik mengingat kemeriahan perayaan Hari Jadi ke-22 Kabupaten Samosir pada 27 Februari 2026. Panggung hiburan megah menghadirkan Tonton Caribo dan Ungu, serta sederet artis lokal lainnya, lengkap dengan sorak sorai penonton.
Tidak ada yang salah dengan perayaan hari jadi daerah. Namun, ketika akses vital warga dibiarkan dalam kondisi rawan, wajar jika publik mempertanyakan sensitivitas dan skala prioritas pemerintah daerah. Apakah anggaran lebih cepat mengalir untuk hiburan dibanding perbaikan infrastruktur dasar?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan mengingat jembatan tersebut bukan sekadar penghubung fisik, tetapi juga penghubung kehidupan sosial dan spiritual masyarakat.
Sampai saat ini, pihak pemerintah Kabupaten Samosir belum memberikan keterangan resmi terkait kondisi jembatan tersebut maupun rencana perbaikannya. Warga Desa Singkam kini hanya berharap, sebelum jembatan itu benar-benar runtuh, perhatian pemerintah sudah lebih dulu datang. (*/Red)
Editor: John

