![]() |
| Kepala SMK Negeri 1 Sorong, Drs. Austinus Hotman Parulian Ompusunggu, M.M. (Foto: dok/ist) |
SMSNEWS.id | Sorong – Program sekolah gratis yang digagas Pemerintah Kota Sorong terus berlanjut sebagai salah satu prioritas pembangunan di bidang pendidikan. Kebijakan tersebut dinilai memberikan manfaat besar bagi masyarakat karena meringankan beban ekonomi orang tua sekaligus membuka akses pendidikan yang lebih luas bagi generasi muda.
Kepala SMK Negeri 1 Sorong, Drs. Austinus Hotman Parulian Ompusunggu, M.M., menyampaikan bahwa komitmen Wali Kota Sorong, Septinus Lobat, SH., MPA., terhadap dunia pendidikan terus diwujudkan melalui pembiayaan pendidikan gratis bagi seluruh siswa di sekolah negeri.
Hal itu disampaikannya saat berbincang dengan media di ruang kerjanya, Selasa (14/7/2026).
Menurut Hotman, keberlanjutan program sekolah gratis menunjukkan keseriusan pemerintah daerah dalam membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan.
"Pendidikan merupakan investasi terbesar bagi masa depan daerah. Karena itu pemerintah terus memprioritaskan sektor pendidikan sebagai dasar pembangunan masyarakat yang maju dan berdaya saing," ujarnya.
Ia menjelaskan, sekolah gratis berarti seluruh sekolah negeri tidak lagi diperkenankan memungut biaya SPP dari peserta didik karena seluruh biaya tersebut telah ditanggung oleh Pemerintah Kota Sorong.
"Kebijakan ini sudah berjalan lebih dari dua tahun dan kami merasakan dampaknya sangat positif. Kami mengapresiasi perhatian Wali Kota terhadap dunia pendidikan," katanya.
Pada tahun ajaran 2026, SMK Negeri 1 Sorong menerima peserta didik baru pada sembilan program keahlian, yakni Pemasaran, Akuntansi, Manajemen Perkantoran, Teknik Komputer dan Jaringan, Rekayasa Perangkat Lunak, Desain Komunikasi Visual, Teknik Perminyakan, Geologi Pertambangan, dan Teknik Survey dan Pemetaan.
Dari seluruh program tersebut, Geologi Pertambangan menjadi jurusan yang memiliki sistem pendidikan berbeda. Selain masa studi selama empat tahun, para siswa juga diwajibkan mengikuti berbagai kegiatan praktik lapangan sebagai bagian dari kurikulum pembelajaran.
Praktik tersebut meliputi penelitian di kawasan pegunungan, lembah, pesisir hingga lokasi pertambangan yang berada di luar Kota Sorong bahkan di luar Provinsi Papua Barat Daya.
Karena karakteristik pembelajarannya, biaya transportasi dan konsumsi selama kegiatan praktik lapangan masih menjadi tanggung jawab peserta didik sehingga membutuhkan dukungan tambahan dari orang tua.
"Kondisi ini sudah kami sampaikan sejak awal kepada calon siswa dan orang tua pada saat penerimaan peserta didik baru. Mereka memahami kebutuhan tersebut karena praktik lapangan merupakan bagian penting dalam membentuk kompetensi lulusan Geologi Pertambangan," jelas Hotman.
Meski memerlukan biaya praktik tambahan, jurusan Geologi Pertambangan tetap menjadi salah satu program keahlian yang banyak diminati masyarakat. Tingginya minat tersebut menunjukkan besarnya harapan orang tua agar anak-anak mereka memiliki kompetensi yang sesuai dengan potensi sumber daya alam di Papua Barat Daya.
Hotman berharap program sekolah gratis yang terus dijalankan Pemerintah Kota Sorong dapat semakin meningkatkan kualitas pendidikan, mencetak lulusan yang unggul, serta melahirkan sumber daya manusia yang mampu bersaing dan berkontribusi bagi pembangunan daerah maupun nasional. (Jos)
Editor: Red

