Pemuda Katolik Kepri: Jangan Biarkan Isu Udara Berhenti di Masker Pemuda Katolik Kepri: Jangan Biarkan Isu Udara Berhenti di Masker

Pemuda Katolik Kepri: Jangan Biarkan Isu Udara Berhenti di Masker

Pemuda Katolik Kepri: Jangan Biarkan Isu Udara Berhenti di Masker. (Foto; dok/ist)

SMSNEWS.id | Batam — Seruan toleransi dan persaudaraan di Kota Batam diwujudkan melalui aksi nyata. Tokoh lintas agama bersama mahasiswa, organisasi keagamaan, dan kelompok pemuda membagikan masker gratis di enam persimpangan jalan, Selasa (13/10/2026), sebagai bentuk kepedulian terhadap persoalan kualitas udara dan kesehatan masyarakat.

Aksi bertajuk Lintas Agama Peduli Iklim tersebut mempertemukan berbagai elemen masyarakat dengan satu kepentingan yang sama: melindungi kehidupan dan menjaga lingkungan. Di tengah perbedaan keyakinan, para relawan turun langsung menemui masyarakat yang beraktivitas di jalan raya.

Kegiatan berlangsung selama satu jam, mulai pukul 16.00 hingga 17.00 WIB, dengan menyasar Simpang Gelael, Simpang Kepri Mall, Simpang Nagoya-Martabak Har, Simpang SP Plaza Batu Aji, Simpang Masjid Raya Batam Center, dan Simpang Sekupang di depan Petra.

Masker dibagikan kepada pengendara sepeda motor, pengguna jalan, serta masyarakat yang melintas. Selain memberikan bantuan sederhana, para relawan menyampaikan ajakan untuk meningkatkan kesadaran terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan melindungi kesehatan ketika kualitas udara memburuk.

Namun, pesan dari aksi ini lebih luas daripada sekadar ajakan memakai masker. Ketika masyarakat mengambil inisiatif untuk meningkatkan kewaspadaan, pemerintah dan instansi terkait juga perlu memastikan bahwa upaya perlindungan tersebut didukung data kualitas udara yang akurat, informasi publik yang mudah diakses, dan kebijakan penanganan yang berkelanjutan.

Nimrod Siahaan: Iman Harus Hadir dalam Tindakan Nyata

Ketua Pemuda Katolik Komisariat Daerah (Komda) Provinsi Kepulauan Riau, Nimrod Siahaan, S.Ak., menyampaikan apresiasi dan dukungan penuh terhadap aksi para tokoh lintas agama tersebut.

Ia menilai, gerakan membagikan masker merupakan bentuk kepedulian kemanusiaan yang memperlihatkan bahwa nilai-nilai iman dapat diwujudkan melalui tindakan konkret untuk melindungi sesama.

“Bagi saya, aksi ini bukan sekadar kegiatan membagikan masker, melainkan wujud nyata bahwa nilai-nilai iman harus hadir dalam tindakan yang membawa manfaat bagi kehidupan sesama,” ujar Nimrod.

Menurutnya, ketika muncul kekhawatiran terhadap kualitas udara dan potensi dampaknya bagi kesehatan, masyarakat tidak seharusnya berhenti pada perdebatan atau sekadar menyampaikan keprihatinan. Semua pihak perlu mengambil bagian sesuai kemampuan dan tanggung jawab masing-masing.

Ia secara khusus menyoroti pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan, termasuk anak-anak dan lanjut usia, yang perlu mendapat perhatian ketika kondisi lingkungan berpotensi mengganggu kesehatan.

“Perbedaan agama tidak boleh menjadi penghalang bagi kita untuk bersatu dalam kepedulian terhadap kemanusiaan. Justru melalui perbedaan, kita dapat menunjukkan bahwa kasih, persaudaraan, dan tanggung jawab terhadap sesama merupakan nilai universal yang menyatukan kita,” katanya.

Bagi Nimrod, keterlibatan lintas agama menjadi contoh bahwa toleransi tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum formal atau perayaan keagamaan. Toleransi perlu terlihat melalui kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi bersama.

Ia juga memandang aksi tersebut sebagai teladan bagi generasi muda agar berani mengambil peran dalam menjawab persoalan sosial dan lingkungan.

“Sebagai Ketua Pemuda Katolik Komda Kepri, saya memandang aksi ini sebagai teladan yang baik bagi generasi muda. Pemuda tidak cukup hanya berbicara tentang toleransi, persaudaraan, dan solidaritas. Kita harus berani mewujudkannya melalui tindakan nyata yang dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujarnya.

Pemerintah Diminta Tidak Berhenti pada Imbauan

Di balik apresiasi terhadap gerakan masyarakat, Nimrod menekankan bahwa pembagian masker harus menjadi bagian dari kepedulian yang berkelanjutan. Menurutnya, aksi sosial perlu diikuti langkah yang lebih sistematis untuk memastikan masyarakat memperoleh perlindungan memadai.

“Kami mendorong pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan untuk terus memantau kualitas udara, menyampaikan informasi yang akurat kepada masyarakat, serta mengambil langkah konkret untuk melindungi kesehatan warga Batam,” tegasnya.

Dorongan tersebut menempatkan pemerintah pada posisi penting dalam upaya perlindungan lingkungan. Masyarakat dapat mengingatkan, mengedukasi, dan membantu sesama, tetapi pemantauan resmi, penyediaan informasi publik, serta penanganan sumber pencemaran memerlukan keterlibatan instansi yang memiliki kewenangan dan kapasitas teknis.

Karena itu, informasi mengenai kualitas udara perlu disampaikan secara terbuka dan berkala. Apabila hasil pemantauan menunjukkan kondisi yang tidak sehat, masyarakat perlu memperoleh penjelasan mengenai tingkat risiko, kelompok yang harus lebih waspada, serta langkah perlindungan yang direkomendasikan.

Penanganan juga semestinya tidak berhenti pada imbauan agar masyarakat menggunakan masker. Sumber pencemaran perlu ditelusuri berdasarkan data dan pemeriksaan yang dapat dipertanggungjawabkan, kemudian ditindaklanjuti sesuai ketentuan yang berlaku apabila ditemukan pelanggaran.

Langkah-langkah tersebut penting agar kepedulian terhadap kualitas udara tidak hanya muncul ketika persoalan menjadi perhatian publik, tetapi menjadi bagian dari tata kelola lingkungan yang konsisten.

Meski demikian, penilaian mengenai tingkat pencemaran dan sumber penyebabnya tetap harus didasarkan pada data pemantauan yang terverifikasi. Dengan demikian, kritik terhadap penanganan lingkungan dapat disampaikan secara tegas tanpa mendahului hasil pemeriksaan teknis.

Enam Titik Menjadi Ruang Aksi Kemanusiaan

Aksi lintas agama ini mengusung tema “Satu Paru, Satu Bumi, Satu Kemanusiaan – Selamatkan Generasi Kita Hari Ini”. Gerakan tersebut melibatkan Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, MUI, Pemuda Katolik dan perwakilan umat Katolik, GAMKI, PGI dan perwakilan jemaat Kristen Protestan, serta perwakilan umat Buddha, Konghucu, dan Hindu.

Ketua Umum MUI Kota Batam, Luqman Rifai, menyampaikan bahwa menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat merupakan tanggung jawab bersama yang tidak mengenal perbedaan agama.

“Menjaga lingkungan dan kesehatan masyarakat merupakan tanggung jawab kita bersama. Perbedaan agama tidak boleh menjadi penghalang untuk bersatu dalam aksi kemanusiaan,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Umum PGI Kota Batam, Pendeta Otnil Harefa, menegaskan bahwa kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata.

“Udara bersih adalah kebutuhan semua orang. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan harus diwujudkan melalui tindakan nyata, bukan hanya menjadi seruan,” katanya.

Keterlibatan berbagai unsur keagamaan itu memperlihatkan bahwa persoalan lingkungan dapat menjadi ruang kolaborasi yang memperkuat persaudaraan. Kepentingan untuk memperoleh udara bersih melampaui perbedaan identitas, sebab dampak persoalan lingkungan dapat dirasakan oleh masyarakat luas.

Sebelumnya, kegiatan tersebut dijadwalkan pada Senin (12/10/2026) pukul 16.00 WIB hingga selesai. Namun, agenda diundur keesokan harinya setelah Batam mengalami pemadaman listrik secara luas sejak sekitar pukul 06.30 WIB hingga malam hari dan jaringan internet mengalami gangguan.

Para relawan kemudian melaksanakan kegiatan pada Selasa (13/10/2026) di enam persimpangan yang telah ditentukan.

Jaga Lingkungan, Lindungi Masa Depan Batam

Nimrod mengingatkan bahwa tanggung jawab menjaga lingkungan bukan hanya milik pemerintah atau kelompok tertentu. Masyarakat juga memiliki peran melalui kebiasaan yang lebih ramah lingkungan, kepatuhan terhadap imbauan kesehatan, dan keterlibatan dalam gerakan sosial.

Ia mengimbau warga untuk meningkatkan kewaspadaan, mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk, serta menggunakan masker yang sesuai untuk membantu mengurangi paparan partikel berbahaya.

Namun, tanggung jawab masyarakat perlu berjalan seiring dengan kebijakan pemerintah yang terukur. Tanpa informasi yang memadai dan tindak lanjut terhadap persoalan lingkungan, warga akan kesulitan menentukan langkah perlindungan yang paling tepat.

Bagi Pemuda Katolik Komda Kepri, gerakan lintas agama tersebut sejalan dengan panggilan iman untuk mengasihi sesama tanpa membedakan latar belakang.

“Bagi Pemuda Katolik, semangat ini sejalan dengan panggilan iman untuk mengasihi sesama tanpa membeda-bedakan latar belakang. Iman yang hidup bukan hanya tampak dalam doa dan perayaan keagamaan, tetapi juga dalam keberanian untuk hadir ketika masyarakat membutuhkan pertolongan,” ungkap Nimrod.

Ia menegaskan bahwa Pemuda Katolik Komda Kepri mendukung gerakan kemanusiaan yang menyatukan masyarakat, melindungi kehidupan, dan menghadirkan harapan tanpa memandang perbedaan agama, suku, maupun golongan.

“Mari kita buktikan bahwa iman bukan hanya sesuatu yang kita yakini, tetapi juga sesuatu yang kita kerjakan,” katanya.

Aksi ini diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Solidaritas yang telah terbangun perlu diteruskan melalui edukasi lingkungan, keterlibatan generasi muda, pengawasan publik, dan komunikasi yang konstruktif dengan pemerintah serta instansi terkait.

Pada saat yang sama, pemerintah perlu menjadikan perlindungan kualitas udara sebagai bagian penting dari tanggung jawab pelayanan publik. Keterbukaan informasi, pemantauan berkala, dan tindak lanjut berbasis data merupakan langkah yang patut didorong agar masyarakat tidak hanya diminta waspada, tetapi juga mendapatkan perlindungan yang layak.

Sebagaimana pesan yang disampaikan Nimrod, “Berbeda dalam iman, bersatu dalam kemanusiaan, bersama merawat rumah kita.”

Sebab, pada akhirnya, persaudaraan tidak hanya diuji melalui kemampuan masyarakat hidup berdampingan dalam perbedaan, tetapi juga melalui keberanian semua pihak untuk bertindak ketika kesehatan, lingkungan, dan masa depan generasi mendatang membutuhkan perhatian bersama. (John)

Editor: Red

Lebih baru Lebih lama