![]() |
Teo Hanpalam (kiri), 2 Kelompok Warga yang terlibat bentrok (kanan). (Foto : dok/ist) |
SMSNEWS.id | NTT - Dua kelompok warga di perbatasan antara Kabupaten Manggarai Timur (Matim) dan Kabupaten Ngada Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terlibat saling serang. Hal itu mendapat atensi serius dari aktivis Hak Asasi Manusia dari FAHAM, Teo Hanpalam. Ia mendesak Bupati kedua Kabupaten turun tangan dan Gubernur NTT harus segera intervensi.
Menurut Teo, sengketa tanah di berbagai tempat memang menjadi masalah lanten yang perlu diselesaikan secara adil dan bertanggungjawab.
"Sengketa tanah ulayat memang terjadi di banyak tempat, butuh respons dan solusi konkret dari kedua Pemimpin Kabupaten, karena ini persoalan lintas batas," tegas Teo kepada media ini, Senin (18/8/25).
Teo meminta agar Bupati Manggarai Timur dan Bupati Ngada turun tangan untuk mendamaikan kedua kelompok massa tersebut. Menurutnya, Gubernur NTT bisa andil sebagai fasilitator.
"Karena ini bukan konflik dalam wilayah suatu kabupaten, tetapi di daerah perbatasan yang diklaim masing-masing pihak bersengketa," jelasnya.
Teo juga menambahkan, bahwa dalam menyelesaikan konflik ini perlu pemerintah Provinsi dan Kabupaten untuk intervensi, kemudian menormalisasi serta merekonsiliasi kedua kelompok yang bersengketa.
"Tetapi, sebelum itu harus ada kepastian status lahan tersebut. Itu tugas pemerintah, pemerintah harus segera intervensi, agar masalah ini segera diselesaikan dan tidak memakan korban jiwa," pungkasnya.
Menurut Teo, status kepemilikan tanah ulayat tidak boleh dihapus karena aturan administratif wilayah. Kata, Teo, itu adalah hak waris, pemerintah harus memberi jaminan atas hak tersebut kepada pemilik sah dari lahan itu sebelum disahkan secara administratif.
"Untuk memastikan kejelasannya, duduk bersama, berikan bukti tersurat maupun tersirat bisa berupa bukti sejarah supaya bisa jelas dan tidak saling klaim," katanya.
Disamping itu, Teo juga meminta kepada kedua kelompok massa yang bersengketa untuk menahan diri dan duduk bersama mencari solusi.
"Saya meminta kedua kelompok untuk menahan diri dan menyelesaikan sengketa dengan duduk bersama. Keselamatan kedua kelompok harus diatas segalanya. Konflik ini harus segera dihentikan, tidak boleh ada ekskalasi lebih lanjut, harus ini dibawah ke meja perundingan yang melibatkan aparatur pemerintah, supaya terang benderang," tutup aktivis Forum Aktivis Hak Asasi Manusia (FAHAM) tersebut.
Sementara itu, hingga berita ini diterbitkan, media ini belum dapat melakukan konfirmasi kepada kedua belah pihak kelompok massa yang terlibat bentrok dan sedang berupaya mengkonfirmasi pihak pemerintah setempat guna mendapatkan keterangan resmi terkait peristiwa tersebut. (*)
Editor : Red