![]() |
| ITB Dorong OPD Sumut Bangun Pemulihan Pascabencana Berbasis Budaya dan Psikologi. (Foto: dok/ist) |
SMSNEWS.id | Langkat – Penguatan kapasitas aparatur pemerintah menjadi salah satu kunci keberhasilan penanganan pascabencana. Berangkat dari pemikiran tersebut, Institut Teknologi Bandung (ITB) menggelar program pengabdian kepada masyarakat di Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, pada 5–6 Agustus 2026, dengan mengembangkan model penanganan pascabencana berbasis budaya lokal dan pendekatan psikologi.
Program ini merupakan respons terhadap dampak bencana besar yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera Utara pada November 2025. Selain menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi yang besar, bencana tersebut juga meninggalkan persoalan sosial dan psikologis yang membutuhkan penanganan secara menyeluruh.
Indonesia yang berada di wilayah rawan bencana memerlukan strategi penanganan yang tidak hanya fokus pada rehabilitasi fisik, tetapi juga memperhatikan kondisi mental masyarakat serta kesiapan aparatur pemerintah dalam memberikan pelayanan kepada penyintas.
Melalui kolaborasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tim pengabdian ITB yang terdiri atas Dr. Dana Waskita, S.S., M.App.Ling., R.R. Sri Wachyuni, M.Psi., Dr. Tri Sulistyaningtyas, M.Hum., dan Andi Muhammad Yuandana Putra C., S.T., M.B.A. memperkenalkan model pemulihan yang menggabungkan perspektif budaya dan psikologi.
Pendekatan tersebut diyakini mampu meningkatkan kesiapan OPD dalam menghadapi perubahan situasi pascabencana, memperkuat kemampuan adaptasi, meningkatkan motivasi kerja, sekaligus mendorong pelayanan publik yang lebih berkualitas.
Dalam pelaksanaannya, para peserta mengikuti berbagai tahapan mulai dari studi lapangan, observasi partisipatif, pemetaan masalah, Focus Group Discussion (FGD), pelatihan psikologis, konseling, coaching, simulasi, permainan edukatif, workshop hingga pendampingan praktik secara langsung.
Pendekatan psikologis dipadukan dengan nilai budaya masyarakat Sumatera Utara yang selama ini menjadi perekat kehidupan sosial.
Tim ITB menjelaskan bahwa budaya memiliki peran penting dalam memperkuat identitas masyarakat, membangun solidaritas, serta menjadi sumber pembelajaran menghadapi bencana. Nilai-nilai tersebut dapat menjadi modal sosial yang sangat efektif dalam mempercepat proses pemulihan.
Tradisi Marsialapari yang berkembang di Tapanuli Selatan menjadi salah satu contoh budaya yang mengedepankan semangat gotong royong, saling membantu, dan bekerja bersama dalam menghadapi kesulitan.
Begitu pula tradisi Marsiurupan yang hidup di tengah masyarakat Batak Toba melalui falsafah Dalian Na Tolu, yang mengajarkan pentingnya kebersamaan, persatuan, dan kerja sama dalam kehidupan sosial.
Menurut tim pengabdian, nilai-nilai tersebut sangat relevan diterapkan dalam proses penanganan bencana karena mampu membangun kembali optimisme masyarakat sekaligus memperkuat hubungan sosial antarwarga.
Selain itu, aspek komunikasi juga menjadi perhatian utama dalam pelatihan. Dr. Dana Waskita bersama Dr. Tri Sulistyaningtyas memberikan materi mengenai pentingnya penggunaan bahasa yang sederhana, jelas, dan mudah dipahami penyintas.
Kemampuan memilih kata dinilai menjadi bagian penting dalam proses pemulihan karena komunikasi yang efektif mampu membantu masyarakat memahami setiap tahapan rehabilitasi serta mengurangi kebingungan maupun kecemasan yang dialami korban.
Melalui program ini, ITB berharap Organisasi Perangkat Daerah memiliki model kerja yang lebih adaptif, responsif, dan berkelanjutan dalam menghadapi berbagai situasi bencana.
Integrasi antara ilmu psikologi dan nilai-nilai budaya lokal diharapkan menjadi kekuatan baru dalam membangun sistem penanganan pascabencana yang tidak hanya memulihkan kondisi fisik masyarakat, tetapi juga membangkitkan kembali semangat hidup, solidaritas, dan ketangguhan sosial masyarakat Sumatera Utara. (*)
Editor: Red

