HH Club Digerebek, 762 Ekstasi Disita dan Manajemen Disorot HH Club Digerebek, 762 Ekstasi Disita dan Manajemen Disorot

HH Club Digerebek, 762 Ekstasi Disita dan Manajemen Disorot

HH Club Digerebek, 762 Ekstasi Disita dan Manajemen Disorot. (Foto: dok/ist)

SMSNEWS.id | Batam – Penggerebekan HH Club di Batam oleh Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri mengungkap persoalan yang lebih serius daripada sekadar dugaan transaksi narkotika antarpengunjung.

Polisi menemukan 762 butir ineks atau ekstasi yang disimpan dalam sebuah brankas di dalam tempat hiburan malam tersebut. Penyelidikan Bareskrim juga mengarah pada dugaan keterlibatan pihak manajemen dalam peredaran narkotika.

Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Pol. Eko Hadi Santoso mengatakan, penggerebekan dilakukan setelah penyidik memperoleh hasil pengembangan yang mengarah pada dugaan adanya peran orang dalam.

“Itu kita amankan karena menyangkut dengan manajemen yang ikut terlibat dalam peredarannya. Ini adalah hasil yang terus dikembangkan,” ujar Eko.

Temuan brankas menjadi salah satu titik penting dalam operasi tersebut. Sebanyak 762 butir ekstasi ditemukan di dalamnya dan disita polisi sebagai barang bukti.

Keberadaan narkotika dalam jumlah tersebut di sebuah tempat hiburan malam memunculkan persoalan serius mengenai bagaimana barang terlarang itu dapat masuk, disimpan dan diduga diedarkan di lingkungan kelab.

Apalagi, penyidik tidak hanya mendalami dugaan keterlibatan pengunjung, tetapi juga kemungkinan adanya peran pihak internal.

Operasi Senyap dari Mabes Polri

Penggerebekan dilakukan langsung oleh personel Bareskrim Polri. Pilihan untuk mendatangkan tim dari Mabes Polri ke Batam bukan tanpa pertimbangan.

Eko menjelaskan, jaringan narkotika di tempat hiburan malam cenderung tertutup dan para pelaku dapat mengenali aparat yang sehari-hari bertugas di wilayah tersebut.

Karena itu, penyidik dari luar daerah dinilai memiliki keuntungan dalam melakukan penyamaran.

“Kedalaman cara penyelidikan tiap personel berbeda-beda. Bukan berarti polisi setempat tidak bekerja. Mungkin mukanya gampang dikenal,” ujar Eko.

Dengan pendekatan tersebut, personel Bareskrim dapat menyamar sebagai pengunjung untuk mengumpulkan informasi dan mengembangkan penyelidikan sebelum melakukan tindakan.

Strategi ini menjadi bagian penting dalam membongkar jaringan narkotika yang diduga telah memiliki pola kerja dan akses tertentu di lingkungan tempat hiburan malam.

Pada titik ini, operasi terhadap HH Club juga memperlihatkan bahwa pemberantasan narkotika tidak selalu berlangsung melalui penindakan terbuka. Dalam kasus tertentu, penyidik harus masuk lebih dalam untuk menemukan siapa yang memasok, menyimpan, mengedarkan, hingga siapa yang diduga memberikan ruang bagi aktivitas tersebut.

32 Orang Diperiksa, Enam Tersangka

Dari penggerebekan tersebut, polisi mengamankan 32 orang yang terdiri dari pengunjung dan pihak manajemen.

Setelah menjalani tes urine dan pemeriksaan awal, enam orang kemudian ditetapkan sebagai tersangka.

Namun, Bareskrim menegaskan bahwa proses hukum terhadap orang-orang yang diamankan akan dilakukan berdasarkan peran masing-masing.

Mereka yang nantinya terbukti sebagai pengguna akan dipilah dan dapat menjalani proses asesmen melalui Tim Asesmen Terpadu untuk menentukan kebutuhan rehabilitasi.

“Nanti kita pilah-pilah. Mana yang pengguna nanti kita lakukan TAT untuk rehabilitasi,” kata Eko.

Sementara itu, proses penyidikan belum berhenti pada penetapan enam tersangka. Sebagian pihak yang diamankan telah dibawa ke Jakarta, sedangkan lainnya masih menjalani pemeriksaan di Batam.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa penyidik masih membuka kemungkinan adanya pengembangan perkara.

Jangan Berhenti di Pintu Kelab

Pertanyaan berikutnya adalah sejauh mana perkara HH Club akan dikembangkan.

Apakah penyidikan hanya berhenti pada orang-orang yang ditemukan di lokasi, atau akan bergerak lebih jauh untuk mengungkap sumber pasokan, jalur distribusi dan pihak yang diduga mengendalikan peredaran?

Bareskrim menyatakan penyidikan masih terus dikembangkan.

Ketika ditanya mengenai kemungkinan operasi terhadap tempat hiburan malam lain di Batam, Eko tidak menutup peluang tersebut. Namun, ia mengakui bahwa mengungkap keterlibatan manajemen membutuhkan penyelidikan yang tidak sederhana.

“Ya perlu waktu dong, kan itu sulit mencarinya. Kalau gampang ya masyarakat sudah tangkap dari lama,” katanya.

Pernyataan itu sekaligus menjadi sinyal bahwa operasi HH Club bukan berarti akhir dari penelusuran jaringan narkotika di sektor hiburan malam Batam.

Jika ditemukan bukti yang cukup, tempat hiburan lain juga berpotensi masuk dalam radar penyidik.

Bareskrim menegaskan proses hukum akan dilakukan secara profesional dan transparan. Pemilik serta pengelola tempat hiburan malam juga diminta tidak memberi ruang terhadap praktik peredaran narkotika.

“Langkah selanjutnya adalah penyidikan profesional, transparan, dan dikembangkan,” kata Eko.

Peringatan tersebut penting karena pemberantasan narkotika tidak hanya menyangkut pengguna dan pengedar di lapangan. Ketika sebuah tempat usaha diduga menyediakan ruang, fasilitas atau bahkan melibatkan unsur internal dalam peredaran narkotika, maka pengawasan terhadap manajemen menjadi bagian yang tidak dapat diabaikan.

Kini publik menunggu hasil pengembangan Bareskrim: apakah enam tersangka merupakan ujung perkara, atau justru pintu masuk untuk membongkar jaringan narkotika yang lebih besar di balik aktivitas hiburan malam di Batam. (*)

Editor: Red

Lebih baru Lebih lama