Dewi Sartika Meninggal Usai Operasi, Keluarga Minta Semua Terang Dewi Sartika Meninggal Usai Operasi, Keluarga Minta Semua Terang

Dewi Sartika Meninggal Usai Operasi, Keluarga Minta Semua Terang

Dewi Sartika Meninggal Usai Operasi, Keluarga Minta Semua Terang. (Foto: dok/ist)

SMSNEWS.id | Batam — Harapan Dewi Sartika Sitinjak untuk mendapatkan penanganan medis setelah menjalani operasi ambeien justru berakhir dengan duka. Perempuan 24 tahun asal Samosir itu meninggal dunia setelah hampir dua pekan menjalani perawatan intensif di RS Awal Bros (RSAB) Botania, Batam.

Kematian Dewi kini tidak hanya meninggalkan kesedihan bagi keluarga dan rekan-rekannya. Peristiwa tersebut juga memunculkan sejumlah pertanyaan mengenai rangkaian penanganan medis yang diterimanya.

Keluarga bahkan telah melaporkan pihak rumah sakit ke Polresta Barelang atas dugaan malapraktik.

Laporan itu disampaikan pada Sabtu (8/8/2026), dua hari sebelum Dewi dinyatakan meninggal dunia.

Disadur dari TribunBatam.id, Dewi awalnya datang ke RSAB Botania pada Senin (27/7/2026) untuk menjalani perawatan sebelum operasi ambeien.

Pada Selasa (28/7/2026) sekitar pukul 19.00 WIB, tindakan operasi dilakukan. Operasi disebut berlangsung lebih dari dua jam.

Menurut Ando Jaya Samosir, kekasih Dewi, kondisi Dewi sempat baik setelah operasi.

Sekitar pukul 21.30 WIB, Dewi masih dapat berkomunikasi. Tidak ada keluhan sakit yang berarti.

Situasi berubah sekitar pukul 23.30 WIB ketika Dewi mendapatkan suntikan melalui jalur infus.

Ando menyebut Dewi mulai merasakan sakit setelah suntikan tersebut. Ia bahkan sempat menggenggam erat tangan kekasihnya sambil mengeluhkan rasa sakit kepada perawat.

Keluhan itu, menurut Ando, dijelaskan sebagai efek obat.

Tidak lama berselang, Dewi kembali mendapatkan suntikan.

Setelah itu, kondisinya disebut semakin buruk. Dewi mengalami mual dan kemudian kejang.

Sekitar pukul 23.45 WIB, Dewi kehilangan kesadaran.

Tim medis kemudian melakukan tindakan pertolongan. Dewi selanjutnya dipindahkan ke ruang ICU sekitar pukul 01.00 WIB pada 29 Juli untuk mendapatkan perawatan intensif.

Namun, sejak saat itu, Dewi disebut tidak lagi memberikan respons.

Hari-hari berikutnya berubah menjadi masa penantian bagi keluarga dan orang-orang terdekatnya. Harapan agar Dewi kembali sadar akhirnya berakhir pada Senin (10/8/2026).

Dewi dinyatakan meninggal dunia.

Tiga Dosis Suntikan Jadi Sorotan

Keluarga kini mempertanyakan apa yang terjadi pada rentang waktu setelah operasi hingga Dewi akhirnya kehilangan kesadaran.

Kuasa hukum keluarga, Jendris Sihombing, S.H., M.H., menyebut salah satu hal yang dipertanyakan adalah pemberian obat melalui suntikan setelah operasi.

Menurut Jendris, sekitar dua jam setelah operasi Dewi mendapatkan tiga dosis suntikan.

"Dua dosis disuntik melalui tangan, dan satu dosis dicampurkan ke dalam botol infus," kata Jendris, dikutip dari TribunBatam.id.

Keluarga menilai perubahan kondisi Dewi perlu dijelaskan secara medis dan objektif.

Apakah perubahan tersebut berkaitan dengan obat, komplikasi pascaoperasi, kondisi medis tertentu, atau faktor lainnya menjadi bagian yang harus dibuktikan melalui pemeriksaan profesional.

Karena itu, keluarga menempuh jalur hukum.

Jenazah Dewi juga direncanakan menjalani autopsi di RS Bhayangkara. Pemeriksaan tersebut diharapkan dapat membantu menemukan penyebab kematian sebelum jenazah dipulangkan ke Pulau Samosir.

Jangan Biarkan Pertanyaan Keluarga Menggantung

Kasus ini kini berada dalam ruang yang membutuhkan kehati-hatian.

Dugaan malapraktik yang dilaporkan keluarga belum dapat dianggap sebagai kesimpulan mengenai kesalahan pihak rumah sakit. Pembuktian harus dilakukan melalui penyelidikan kepolisian dan pemeriksaan medis berdasarkan bukti yang dapat dipertanggungjawabkan.

Namun, pada saat yang sama, pertanyaan keluarga juga tidak semestinya berhenti tanpa jawaban.

Rangkaian kejadian sejak operasi, pemberian obat, perubahan kondisi, tindakan kegawatdaruratan hingga perawatan di ICU perlu dijelaskan secara transparan agar tidak menimbulkan spekulasi di tengah masyarakat.

Hingga berita ini diterbitkan, media ini masih berupaya melakukan konfirmasi kepada pihak RS Awal Bros terkait kronologi kejadian dan dugaan yang disampaikan keluarga.

Konfirmasi dari pihak rumah sakit penting untuk memberikan ruang bagi penjelasan dan hak jawab, sekaligus memastikan pemberitaan tidak hanya bertumpu pada keterangan satu pihak.

Rekan Kerja Kehilangan Sosok Ceria

Bagi rekan-rekan Dewi di Batam, kepergiannya bukan sekadar sebuah berita duka.

Selama sekitar enam tahun hidup sebagai perantau, Dewi tinggal di dormitory Batamindo, Mukakuning, sekaligus bekerja di perusahaan manufaktur komponen elektronik yang sebelumnya bernama PT Schneider dan kini menjadi PT Yageo.

Dewi juga masih berusaha melanjutkan pendidikan di tengah aktivitasnya bekerja.

Delia, rekan satu dormitory, menggambarkan Dewi sebagai sosok yang mudah bergaul, ceria dan gemar bercanda.

Keduanya juga bekerja di perusahaan yang sama meskipun berada di departemen berbeda.

Kabar meninggalnya Dewi membuat rekan-rekannya berdatangan ke RSAB Botania. Mereka menunggu proses pemindahan jenazah dari ruang ICU sekaligus memberikan penghormatan terakhir.

Bagi mereka, Dewi adalah bagian dari keseharian selama menjalani kehidupan di tanah rantau.

Kini, perjalanan hidup perempuan muda asal Samosir itu telah berakhir di Batam.

Yang tersisa adalah duka, kenangan, serta pertanyaan yang menunggu jawaban.

Laporan kepada polisi, pemeriksaan medis dan autopsi diharapkan dapat menjadi jalan untuk mengungkap penyebab kematian Dewi secara terang.

Jika memang tidak ditemukan kesalahan dalam penanganan medis, proses tersebut semestinya dapat memberikan kepastian bagi rumah sakit sekaligus keluarga. Sebaliknya, jika ditemukan adanya pelanggaran, fakta tersebut harus ditindaklanjuti sesuai ketentuan hukum.

Satu hal yang kini menjadi harapan keluarga: kematian Dewi tidak berhenti sebagai kabar duka, tetapi mendapatkan penjelasan yang terang dan dapat dipertanggungjawabkan. (*)

Editor: Red

Lebih baru Lebih lama