Dari Jurnalis dan Mantan Perwira Kapal, Dua Alumni UNRIKA Masuk Magister UMSU Dari Jurnalis dan Mantan Perwira Kapal, Dua Alumni UNRIKA Masuk Magister UMSU

Dari Jurnalis dan Mantan Perwira Kapal, Dua Alumni UNRIKA Masuk Magister UMSU

Dari Jurnalis dan Mantan Perwira Kapal, Dua Alumni UNRIKA Masuk Magister UMSU. (Foto: dok/ist)

SMSNEWS.id | Medan — Dua alumni Fakultas Hukum Universitas Riau Kepulauan (UNRIKA) Batam membawa kisah perjalanan hidup yang berbeda ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang Magister Ilmu Hukum Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).

Mereka adalah Jonrius Sinurat dan Sahat Marulitua Siahaan. Keduanya termasuk 12 calon mahasiswa yang dinyatakan diterima dalam program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) Program Studi Magister Ilmu Hukum, Sekolah Pascasarjana UMSU.

Kepastian tersebut tertuang dalam Berita Acara Hasil Asesmen Calon Mahasiswa RPL Program Studi Magister Ilmu Hukum yang ditetapkan di Medan pada 1 Oktober 2026.

Dalam daftar tersebut, Jonrius tercatat pada urutan ketiga dengan nomor registrasi 261910284, sementara Sahat berada di urutan ketujuh dengan nomor registrasi 261910285. Keduanya tercatat pada Program Studi Ilmu Hukum (S2).

Secara keseluruhan, berita acara tersebut mencantumkan 12 calon mahasiswa yang menjalani asesmen kecukupan RPL. Setelah proses asesmen dilaksanakan, seluruh nama dalam daftar dinyatakan diterima sebagai mahasiswa RPL Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana UMSU.

Bagi Jonrius dan Sahat, keputusan tersebut sekaligus mempertemukan dua perjalanan hidup yang berbeda dalam satu ruang akademik: dunia jurnalistik dan dunia pelayaran.

Jonrius: Wartawan, Pimpinan Media dan Ayah Lima Anak

Jonrius Sinurat bukan sosok yang baru mengenal dunia profesional ketika memasuki pendidikan hukum.

Pria kelahiran Balam, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, itu merantau ke Batam pada 2005. Kini, pada usia 41 tahun, Jonrius menjalani kehidupan bersama istrinya, Lianni Nababan, dan lima anak.

Sejak 2017, ia memilih jurnalistik sebagai profesi. Perjalanannya dimulai dari media mingguan hingga media online yang berkantor di Jakarta.

Empat tahun kemudian, tepatnya pada 2021, Jonrius mendirikan perusahaan pers dan media online sendiri. Hingga kini, perusahaan tersebut masih berjalan. Di dalam perusahaan itu, ia tidak hanya menjalankan profesi sebagai jurnalis, tetapi juga mengemban tugas sebagai direktur, pemimpin umum dan pemimpin redaksi.

Di tengah kesibukan profesional dan tanggung jawab keluarga, Jonrius tetap menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di UNRIKA. Ia berhasil menuntaskan studi dalam tujuh semester dan lulus pada Februari 2026.

Perjalanan akademiknya tidak berhenti setelah memperoleh gelar sarjana. Pada Juli 2026, ia mengikuti PKPA dan UPA di DPN Indonesia. Di luar pekerjaan dan pendidikan formal, Jonrius juga aktif dalam berbagai organisasi dan mengikuti seminar maupun webinar pada berbagai tingkatan.

Kini, kesempatan untuk memperdalam ilmu hukum kembali terbuka melalui program magister UMSU.

“Menjadi suami dan ayah dari lima anak membuat saya memahami bahwa pendidikan bukan hanya investasi untuk diri sendiri. Ada keluarga yang melihat bagaimana kita berjuang dan ada anak-anak yang belajar dari keputusan orang tuanya,” ujar Jonrius.

Ia mengatakan perjalanan hidup seseorang tidak selalu berjalan lurus.

“Kita boleh memulai dari titik yang berbeda. Ada yang kuliah sejak muda, ada yang harus bekerja terlebih dahulu, ada yang membangun keluarga, baru kemudian melanjutkan pendidikan. Jangan jadikan perbedaan itu sebagai alasan untuk berhenti belajar,” katanya.

Sahat: Dari Perwira Kapal Niaga ke Dunia Jurnalistik

Jika Jonrius datang dari perjalanan panjang di dunia media, Sahat Marulitua Siahaan membawa pengalaman profesional dari dunia pelayaran.

Sahat, 47 tahun, lahir dan besar di Pematangsiantar. Ia mulai merantau pada 2002 dan menghabiskan sebagian besar periode 2002 hingga 2021 sebagai pekerja pelayaran. Dalam perjalanan kariernya, ia pernah dipercaya menjabat sebagai perwira di kapal niaga.

Setelah mengakhiri aktivitas melaut, Sahat memasuki dunia jurnalistik. Sejak 2021, ia menjalani profesi sebagai jurnalis di JejakSiber.com.

Di luar profesinya, Sahat aktif dalam berbagai organisasi dan mengikuti berbagai seminar, webinar, pelatihan profesional serta sertifikasi yang diselenggarakan sejumlah lembaga.

Sebagai suami dari Serlinawati Beru Manurung dan ayah tiga anak, Sahat kemudian mengambil keputusan untuk menempuh pendidikan hukum.

Keputusannya tersebut menghasilkan capaian akademik yang menonjol. Sahat menyelesaikan pendidikan Sarjana Hukum di UNRIKA pada Februari 2026 dalam tujuh semester dan meraih prestasi sebagai lulusan terbaik periode pertama 2026 dari seluruh fakultas dan program studi di universitas tersebut.

Perjalanan akademik itu kemudian dilanjutkan dengan mengikuti PKPA dan UPA di PERADI pada April hingga Agustus 2026.

Beberapa bulan kemudian, namanya kembali tercatat dalam dunia akademik, kali ini sebagai calon mahasiswa Magister Ilmu Hukum UMSU melalui RPL.

“Kalau saya melihat kembali perjalanan hidup, saya belajar bahwa pekerjaan dan pendidikan bukan dua hal yang harus dipertentangkan. Justru pengalaman bekerja membuat kita semakin menghargai ilmu yang dipelajari,” kata Sahat.

Menurutnya, usia bukan alasan untuk menutup pintu pendidikan.

“Tidak ada istilah terlambat untuk belajar. Yang terlambat adalah ketika kita sudah memiliki kesempatan tetapi memilih untuk tidak menggunakannya. Kepada anak-anak muda, manfaatkan masa muda untuk belajar. Kepada para orang tua, jangan takut memulai kembali,” ujarnya.

UMSU dan UNRIKA, dua kampus dalam perjalanan akademik

Langkah Jonrius dan Sahat juga memperlihatkan kesinambungan perjalanan akademik antara dua perguruan tinggi swasta.

UNRIKA adalah perguruan tinggi swasta pertama dan ternama di Provinsi Kepulauan Riau yang berlokasi di Kota Batam. Sementara UMSU adalah perguruan tinggi swasta terkemuka di Medan, Sumatera Utara, dan satu-satunya PTS yang meraih akreditasi Unggul di wilayah tersebut, yang menjadi tempat keduanya melanjutkan pendidikan ke jenjang magister.

Keduanya membawa pengalaman akademik dari Fakultas Hukum UNRIKA menuju Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana UMSU.

Dalam berita acara, proses asesmen dilakukan oleh Komite RPL Program Studi Magister Ilmu Hukum Sekolah Pascasarjana UMSU pada 1 Oktober 2026.

Komite tersebut terdiri atas Ketua Assoc. Prof. Dr. Ida Nadirah, S.H., M.H., Sekretaris Assoc. Prof. Dr. Rahmat Ramadhani, S.H., M.H., sementara berita acara diketahui Direktur Sekolah Pascasarjana UMSU Prof. Dr. H. Triono Eddy, S.H., M.Hum.

Penerimaan melalui RPL tersebut menjadi titik baru bagi Jonrius dan Sahat untuk mempertemukan pengalaman profesional dengan pendidikan akademik di bidang hukum.

Bukan soal usia, tetapi kemauan untuk terus berkembang

Kisah keduanya juga memperlihatkan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya menjadi ruang bagi mereka yang baru lulus sekolah atau memasuki usia dewasa awal.

Jonrius melanjutkan pendidikan sambil menjalankan perusahaan pers, mengelola media dan membesarkan lima anak. Sahat melanjutkan pendidikan setelah melewati lebih dari dua dekade pengalaman di dunia pelayaran, pernah menjadi perwira di kapal niaga, kemudian beralih menjadi jurnalis dan membesarkan tiga anak.

Keduanya memiliki latar belakang profesi, pengalaman dan usia yang berbeda. Namun, ada satu kesamaan: keputusan untuk terus belajar.

Bagi masyarakat, terutama keluarga yang sedang mempertimbangkan pendidikan lanjutan, perjalanan keduanya menunjukkan bahwa status sebagai pekerja, orang tua maupun profesional tidak harus menjadi akhir dari perjalanan akademik.

Sebaliknya, pengalaman hidup dapat menjadi bagian dari bekal untuk memasuki tahap pendidikan berikutnya.

Pada akhirnya, gelar bukan sekadar selembar dokumen. Bagi Jonrius dan Sahat, perjalanan menuju magister merupakan kelanjutan dari proses panjang: bekerja, membangun keluarga, berorganisasi, menambah kompetensi dan tetap menyediakan ruang untuk belajar.

Sebuah pesan yang relevan bagi siapa saja yang masih memiliki cita-cita pendidikan: perjalanan boleh berbeda, usia boleh tidak sama, tetapi kesempatan untuk belajar tetap dapat diperjuangkan. (Kristina/*)

Editor: Red

Lebih baru Lebih lama